Connect with us

Jkt Ekonomi

Benarkah Ekonomi Indonesia Membaik?

Published

on

jktinfo.comJAKARTA Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD – Organisation for Economic Co-operation and Development) di sela Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) – Bank Dunia (World Bank) di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018) merilis Survei Ekonomi Indonesia 2018.

Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria mengatakan tingkat kepercayaan (confidence level) kepada pemerintah Indonesia lebih tinggi dibanding negara-negara anggota OECD lainnya.

“Ekonomi Indonesia semakin berkembang sehat dan bonus demografi akan semakin mempercepat pertumbuhan tahun depan,” kata Gurria.

Survei memprediksi pertumbuhan Indonesia 5,2% tahun ini dan 5,3% tahun depan. Survei Ekonomi Indonesia oleh OECD dilakukan berkala dua tahunan sejak 2008.

Hal penting yang disoroti adalah menciptakan kondisi yang menjamin generasi mendatang mendapatkan kesempatan hidup lebih baik. Jawabannya adalah infrastruktur, edukasi, kesehatan, dan kualitas kerja untuk memastikan pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.

“Ini ditopang oleh tingkat kepercayaan kepada pemerintah Indonesia lebih tinggi dari pada semua negara-negara OECD. Hasil temuan survei ini bisa menajdi basis untuk kerja sama ke depan dalam konteks OECD-Indonesia joint work program,” kata Gurria.

Survei ini juga dilakukan dengan akomodasi dua faktor penting. Meningkatkan pendapatan publik untuk pertumbuhan secara bersahabat dan membuat pariwisata dalam rangka promosikan keberlangsungan pembangunan daerah.

Sri Mulyani Sumringah Penilaian Positif OECD

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merasa bangga terkait hasil survei tersebut. Menurutnya hal yang patut diperhatikan dalam hasil survei ekonomi Indonesia oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) 2018 adalah keadaan ekonomi Indonesia menunjukkan hasil pertumbuhan positif meski sedang mengalami tekanan penurunan ekonomi global.

“Saya senang pandangan umum OECD terhadap ekonomi Indonesia sangat positif dan menginspirasi,” katanya.

Pemerintah pada 2019 menargetkan peningkatan pemasukan pajak 16,4%. Ada juga sejumlah program peningkatan kapasitas pemuda, seperti pendidikan anak usia dini (PAUD) an akses terhadap sertifikasi guru dan dana operasional sekolah. Di bidang pariwisata, pemerintah mengalokasikan dana khusus, dan melakukan pendekatan holistik sesuai strategi nasional pariwisata.

Menurutnya, kemitraan dengan OECD ini adalah kesempatan untuk membagi pengalaman secara dua arah mengenai pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,

“Pengalaman pembangunan segenap negara maju OECD banyak lessons learned yang bisa digali untuk Indonesia, kita bisa ambil pengalaman mereka yang evidence based bisa digali,” jelasnya.

Sri Mulyani juga mengatakan bahwa, Indonesia menjalin kerjasama dengan OECD karena sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia yang senang belajar dan senang berbagi pengalaman.

Kerjasama Indonesia dan OECD meliputi area kebijakan ekonomi dan pembangunan yang meliputi administrasi dan kepatuhan perpajakan, pembangunan infrastruktur, perlindungan lingkungan, pengembangan UKM, perlindungan sosial, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

JK: Mengapa di Luar Negeri Dipuji, di Dalam Negeri Dimaki

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) hadir di sela-sela acara IMF-World Bank Meeting di Bali dalam sambutannya sempat mengatakan di dalam negeri banyak kritikan terhadap kondisi ekonomi Indonesia, sebaliknya upaya menjaga kondisi ekonomi Indonesia justru mendapat penilaian baik di luar negeri.

“Di dalam negeri kadang-kadang penilaiannya lebih negatif dibanding yang lain. Inilah Indonesia, di luar dipuji, di dalam dikritik, tapi tanpa kritik yang positif ekonomi kita juga tidak akan bisa berkembang baik,” kata JK.

“Saya sendiri juga kadang-kadang terkejut bahwa luar negeri memandang cara kita mengatur ekonomi kita termasuk yang baik, termasuk negara-negara yang lainnya,” tambah JK.

JK menambahkan pemerintah memang pernah menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 6%-7%, namun kenyataannya hanya bisa tercapai di kisaran 5%. Ini terjadi karena gejolak ekonomi global, dan Indonesia ikut terpengaruh kondisi tersebut.

Selain itu, menurut JK, Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain karena masih bisa tumbuh di tengah tekanan ekonomi global.

“Rencana kita bisa tumbuh 6% sampai 7%, tapi keadaan dunia dan juga keadaan dalam negeri kita tumbuh di lingkaran 5 yang sebenarnya dibanding banyak negara, di level menengah. Level menengah tentu mudah naik, tapi apabila kita tidak manage dengan baik bisa juga (turun),” tutur JK.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksi ekonomi Indonesia akan tumbuh di di level 5,1% pada 2018. Berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2018, angka pertumbuhan ekonomi ini menurun dari proyeksi April 2018 sebesar 5,3%.

Kepala Ekonom IMF Maurice Obstfeld mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia turun karena ada pengaruh dari perkembangan ekonomi global yang diperkirakan turun dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen pada tahun ini.

Kendati demikian, JK mengakui ekonomi Indonesia memang mengalami banyak tantangan. Menurut dia, di era keterbukaan saat ini, ekonomi Indonesia tentu sangat terpengaruh oleh kondisi perekonomian global.

Ketegangan perdagangan antara dua negara raksasa ekonomi dunia, yakni Amerika Serikat dan China dinilai turut menyeret negara berkembang, termasuk Indonesia ke dalam lubang hitam pelemahan ekonomi.

“Bagaimana perang dagang, konsumsi dunia, gejolak di pasar uang yang menyebabkan rupiah melemah dari global, itu juga pengaruh,” sebutnya.

Maka itu, lanjutnya, dibutuhkan informasi yang terpercaya dari media agar pelaku kebijakan mampu mengambil kebijakan dengan baik berdasarkan data yang akurat.

Benarkah Ekonomi Indonesia Membaik?

Bank Indonesia memprediksikan Indonesia akan mengahadapi membengkaknya defisit transaksi berjalan (current account deficit) yang diprediksi akan melebihi USD25 Miliar. Angka defisit ini lebih buruk 44,5% dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai USD17,5 Miliar. Jika memang kondisi ekonomi Indonesia membaik, tentunya selaras dengan data ekonomi yang disampaikan BI.

Sejumlah ekonom berkumpul di kediaman Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto, Jumat (5/10) malam. Dari sekian ekonom yang ada dalam pertemuan tersebut, Rizal Ramli mengungkapkan, ekonomi Indonesia tengah berada pada lampu merah pada saat ini.

“Memang hari ini kita lampu merah ekonominya, krisisnya, dan masih akan berlanjut karena badan kita tidak sehat. Antibodi kita kurang kuat, kena virus apa saja bisa sakit,” ujar Rizal usai pertemuan.

Ia menilai, sangat tak adil jika terdapat pihak-pihak yang mengkambinghitamkan faktor-faktor eksternal, seperti kondisi Italia, Turki atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed.

“Kita juga harus introspeksi bahwa diri kita sendiri harus kita bikin sehat. Kita harus ambil langkah-langkah agar krisis ini berkurang,” sambung pria yang kerap disapa RR ini.

Menurutnya, ada sejumlah cara untuk memulihkan kondisi ekonomi Indonesia.

Pertama, kurangi defisit current account dan impor. Namun, ia menekankan jika pengurangan ini harus terfokus pada komoditas impor yang memiliki nominal tinggi.

Rizal mencatat, terdapat 1.147 komoditas impor yang nilai hanya mencapai 5 miliar dolar AS per tahun. Komoditas-komoditas ini, katanya, bukanlah prioritas dalam pengurangan defisit impor.

Selain itu, kalau pajaknya dinaikkan 2,5-7,5% dampaknya hanya akan mengurangi impor 500 juta dolar AS. Ada memang pembatalan-pembatalan proyek besar, tapi kata RR itu saja tidak cukup.

Dia menyarankan pemerintah fokus mengurangi impor komoditas besar, baja misalnya.

“China baja kebanyakan dan banyak dijual ke Indonesia dengan harga murah. Kami minta pemerintah laksanakan memberikan tarif anti dumping sebesar 25% terhadap produk baja dan turunannya. Otomatis impor baja akan turun, impor kita akan turun US$ 5 miliar. Produksi dalam negeri naik, Krakatau Steel dan swasta akan untung,” papar Rizal.

Kemudian, menurut Rizal, pemerintah perlu menaikkan tarif pajak untuk mobil impor.

Cara kedua adalah mewajibkan para pengusaha membawa pulang devisa hasil ekspor. Menurutnya, hanya 20% devisa ekspor yang dimasukkan Indonesia.

Sisa devisa itu, jelas RR, ditaruh para pengusaha di luar negeri seperti Singapura dan Hongkong.

“Kita wajibkan supaya semua eksportir masuk ke dalam. Saya tahu pemerintah mengajak beberapa pengusaha untuk memakai rupiah, tapi itu tidak memadai, kita harus ada di depan kurva untuk bisa keluar dari krisis ini,” tutur Rizal.

Sebagai informasi, Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore bergerak menguat sebesar 37 poin menjadi Rp15.182 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.219 per dolar AS.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

berita terhangat

%d bloggers like this: